Headlines News :
giyanto jaya. Diberdayakan oleh Blogger.
SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI SENKOM BANTEN 0303 GIYANTO JAYA

Latest Post

Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan

Material Masih Tersimpan di Lereng Merapi

Written By Unknown on Jumat, 08 Februari 2013 | 19.31


SLEMAN  - Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo menilai ancaman banjir lahar dingin tahun ini masih cukup besar. Pasalnya sampai saat ini masih ada sekitar 70 juta meter kubik material akibat erupsi Gunung Merapi.
"Material Merapi ini masih berportensi menjadi banjir lahar dingin saat terjadi hujan," ujar Subandriyo disela-sela sosialisasi siaga bencana di Kodim Sleman, Kamis (17/1).
Disebutkan, material ini mengancam 7 sungai yang berada di hulu Merapi. Dengan banyaknya material Merapi ini pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk selalu hati-hati akan ancaman lahar dingin.
"Pokoknya saat ada hujan jangan mendekat ke sungai. Karena bila tak hati-hati akan terjadi banjir lahar dingin," tegas Subandriyo

sumber : (KRjogja.com)

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI


LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI TANGGAL 28 JANUARI - 3 FEBRUARI 2013


Gambar 1.  Cuaca cerah disekitar G. Merapi terjadi pada tanggal 30 Januari 2013 diambil dari Deles

Visual 

 Pada minggu ini cuaca di sekitar puncak G. Merapi dominan mendung dan berkabut pada siang, sore dan malam hari. Cuaca cerah terjadi pada pagi hari teramati hanya sesekali saja (Gambar 1). Angin bertiup dominan ke arah Barat. Suhu udara berkisar 16-29 0C. Asap solfatara berwarna putih tipis hingga tebal dominan tebal, bertekanan lemah, dengan posisi condong ke Barat. Tinggi asap maksimum 450 m, terjadi pada tanggal 3 Februari 2013 pukul 05:50 WIB teramati dari Pos Kaliurang.
 
   Pada minggu ini kegempaan G. Merapi tercatat adanya gempa Guguran sebanyak 29 kali, MP 19 kali dan Tektonik 16 kali. Berdasarkan intensitas kegempaan, gempa-gempa yang terjadi masih menunjukkan dalam batas normal. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Februari 2011 hingga Februari 2013.

 
 
 Gambar 2.  Kegempaan G. Merapi Bulan Januari 2011 – Februari 2013
 Data deformasi berdasarkan pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) menunjukkan belum adanya perubahan jarak yang signifikan antara reflektor-reflektor yang terpasang di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap titik tetap di Pos Jrakah, Pos Babadan, Pos Kaliurang, dan Pos Selo (Gambar 3).
 

 
Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan, Jrakah dan Selo Bulan Juli 2011 –  Februari 2013
   Sedangkan data deformasi dengan pengukuran menggunakan tiltmeter ini juga belum menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan antara alat yang berada di daerah Plawangan (Gambar 4) dan Pasarbubar (Gambar 5)
Gambar 4. Hasil Pengukuran Tiltmeter Plawangan Mei 2011 – Februari 2013
 

Gambar 5. Hasil Pengukuran Tiltmeter stasiun Pasarbubar Mei 2011 – Februari 2013
 
   Data curah hujan di sekitar Pos Pengamatan G. Merapi (Pos Kaliurang, Pos Ngepos, Pos Babadan, Pos Jrakah dan Pos Selo), menunjukkan curah hujan tertinggi tercatat di Pos Ngepos dengan intensitas sebesar 67 mm/jam selama 65 menit pada tanggal 28 Februari 2013. Gambar 6 menunjukkan curah hujan yang terjadi di setiap Pos G. Merapi.


Gambar 6. Curah  hujan di setiap pos pengamatan  pada bulan Januari 2011 – Februari  2013
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat 
“Normal”

III. SARAN
  1. Mengingat curah hujan masih tinggi masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya lahar..
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

  3. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.
     sumber : http://merapi.bgl.esdm.go.id/

Kali Woro Berpotensi Banjir Lahar Dingin

Written By Unknown on Rabu, 30 November 2011 | 10.23

Kepala Seksi Gunung Merapi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)Yogyakarta Sri Sumarti mengatakan Kali Woro berpotensi tinggi banjir lahar dingin. Saat ini bukaan kawah di puncak Merapi mengarah ke selatan sedikit condong ke tenggara, yang besar kemungkinan material erupsi Merapi meluncur sepanjang Kali Woro di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

"Bukaan kawah yang sekarang ini sebenarnya tidak benar-benar tepat ke arah selatan, tetapi agak ke tenggara yang berarti bisa mengarah ke Kali Woro, selain peluang terbesar tetap ke Kali Gendol," katanya, di Klaten, Jumat (18/11)

Lebih lanjut dijelaskan, bukaan kawah ke selatan berarti potensi material yang dimuntahkan gunung berapi tersebut saat erupsi adalah mengalir ke Kali Gendol yang ada di Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Namun karena saat ini posisi bukaan kawah agak condong ke arah tenggara, maka potensi aliran lahar juga mengarah ke Kali Woro yang ada di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

Sumarti menambahkan, Bukit Kendil yang ada di lereng Merapi dan berfungsi sebagai benteng alam penahan aliran material vulkanik saat ini diperkirakan kondisinya sudah rapuh karena pada setiap fase erupsi selalu terkena hantaman lava pijar yang dimuntahkan dari perut Merapi.

Jika pada fase erupsi selanjutnya Bukit Kendil kembali dihantam material vulkanik, kata dia, dikhawatirkan akan runtuh dan material yang keluar dari kantong magma Merapi akan menerjang permukiman yang ada di bawah Bukit Kendil.

Permukiman di bawah Bukit Kendil tersebut yakni Dusun Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, dan Srunen yang ada di Desa Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, serta Desa Balerante dan Sidorejo yang ada di Klaten.

"Kalaupun tidak runtuh, saat ini kondisi material vulkanik yang memenuhi Bukit Kendil berpotensi memicu aliran lava pijar pada saat erupsi yang akan datang meloncati bukit tersebut dan langsung menerjang permukiman warga," tambahnya.

Sementara itu, warga yang nekat tinggal di kawasan bahaya erupsi Merapi mengaku sangat paham dengan ancaman yang mengintai mereka.

"Kami tahu tinggal di dusun kami ini berarti sudah siap dengan rIsiko yang harus dihadapi saat erupsi terjadi. Oleh karena itu kami akan segera menyelamatkan diri jika tanda-tanda erupsi sudah akan terjadi lagi," kata Kepala Dusun I Balerante, Desa Balerante, Jainu.

Terkait ancaman tersebut, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Joko Rukminto mengatakan pihaknya akan terus melakukan pendekatan kepada warga Merapi yang tinggal di zona bahaya agar mau direlokasi.

"Kami diberi waktu oleh Pemerintah Pusat sampai akhir 2012 untuk mengupayakan langkah relokasi pada warga Merapi di zona bahaya erupsi. Kalau pada akhirnya warga tetap tak mau direlokasi, nantinya mereka akan hidup dalam konsep `living in harmony with disaster`, atau hidup berdampingan secara harmonis dengan bencana,

waspada lahar dingin

Written By Unknown on Minggu, 30 Oktober 2011 | 17.37

ancaman terbesar untuk wilayah kabupaten Magelang adalah lahar dingin, karena material akibat erupsi Gunung Merapi sangat banyak. Pemerintah dan warga sudah melakukan antisipasi terhadap ancaman tersebut, diantaranya dengan menggiatkan simulasi, pemasangan rambu dan memberikan himbauan.
“Jangan melintasi sungai jika sedang hujan lebat dan untuk pekerja yang berada di sungai harus sigap,” 53 desa di wilayah Kabupaten Magelang masuk dalam kawasan rawan terancam terjangan banjir lahar dingin pada musim hujan mendatang karena terletak di bantaran sungai yang berhulu di Gunung Merapi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang, Eko Tri, menyebutkan sejumlah desa tersebut tersebar di tujuh kecamatan yakni, Dukun, Srumbung, Sawangan, Salam, Muntilan, Mungkid, dan Ngluwar.
aliran sungai yang berpotensi terjadi banjir lahar dingin meliputi Sugai Pabelan, Lamat, Putih, Blongkeng, Batang, Bebeng dan Krasak. Sungai Pabelan merupakan gabungan dari Sungai Apu, Senowo, Tringsing, dan Juweh.
perilaku banjir lahar tidak dapat diatur meski dapat dilakukan pengendalian untuk mengarahkan arus laharnya. Namun, pengendalian itu hanya bisa dilakukan jika banjir lahar kecil. Apabila besar maka tidak bisa ditentukan arah arusnya.

"Jika terjadi banjir lahar, antisipasinya warga harus menjauh dari sekitar sungai atau mengungsi," Jalur evakuasi ke titik pengungsian tidak boleh melewati sungai.

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

Written By Unknown on Senin, 08 Agustus 2011 | 14.42


LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 25 - 31 JULI 2011
NOMOR: /45/BGV. K/2011
I. HASIL PENGAMATAN

Visual
Cuaca cerah di sekitar puncak G. Merapi dominan terjadi pada waktu pagi, siang dan malam hari, kabut di sekitar puncak teramati pada sore hari. Arah angin bervariasi ke arah timur, barat, utara, selatan dan tenggara (dominan ke arah barat). Suhu udara di dekitar pos pengamatan berkisar 12-29,50C. Asap solfatara berwarna putih tipis hingga tebal bertekanan lemah, dengan posisi tegak. Tinggi asap maksimum 400 m, terjadi pada tanggal 25 Juli 2011 pukul 15:10 WIB teramati dari Pos Kaliurang. Pada tanggal 25 Juli 2011 pukul 08:22 WIB Pos Babadan melaporkan adanya guguran kecil sejauh 800 meter mengarah ke Kali Senowo 2 dan 3. Pada tanggal 26 Juli 2011 pukul 08:15 WIB terlihat guguran kecil, sejauh 600 meter ke K. Senowo 1. Pada minggu ini tidak terjadi hujan dan tidak terjadi lahar di sekitar Gunung Merapi.
Minggu ini jumlah gempa guguran, MP, VB dan hembusan mengalami kenaikan dibandingkan minggu sebelumnya, sedangkan gempa tektonik mengalami penurunan. Tabel 1 menunjukkan perbandingan statistik kegempaan minggu ini terhadap minggu sebelumnya, dan gambar 1 menunjukkan statistik kegempaan perminggu dari bulan September hingga 17 Juli 2011.

Tabel 1. Perbandingan jumlah gempa tanggal 25 -31 Juli 2011 (Minggu ini) terhadap 18 – 24 Juli 2011 (Minggu Lalu).

Gambar 1. Grafik seismik per minggu mulai 1 September 2010 hingga 31 Juli 2011
Hasil pengukuran deformasi menggunakan EDM (Electronic Distance Measurement) pada minggu ini menunjukkan belum adanya perubahan jarak yang signifikan antara reflektor-reflektor yang terpasang di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap titik tetap pengukuran di Pos Jrakah, Babadan, Kaliurang, dan Selo (Tabel 2). Hasil pengukuran ini mencerminkan tidak terjadi deformasi di G. Merapi.
Tabel 2. Hasil Pengukuran EDM tanggal 25 - 31 Juli 2011
II. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat “Waspada” (level II).
III. SARAN
  1. Mengingat masih sering terjadi hembusan asap dengan tekanan cukup kuat dan banyaknya material lepas di lereng G. Merapi yang berpotensi longsor, maka masyarakat tidak diperkenankan melakukan kegiatan pendakian ke kawasan puncak G. Merapi.
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan, maka status aktivitas G. Merapi akan ditinjau kembali.
  3. Untuk memperoleh informasi mengenai G. Merapi, agar menghubungi pos pengamatan terdekat atau ke kantor BPPTK, Jalan Cendana 15 Yogyakarta, telepon: (0274) 514180, (0274) 514192, (0274) 554608, web : www.merapi.bgl.esdm.go.id
  4. Pemerintah daerah diharapkan kerjasamanya untuk menyosialisasiakan rekomendasi ini kepada masyarakat.


Yogyakarta, 1 Agustus 2011
Kepala BPPTK,




Drs. Subandriyo, M. Si
NIP 19620612 199003 1 001

LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI

Written By Unknown on Sabtu, 02 Juli 2011 | 14.35


LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI
TANGGAL 27 JUNI - 3 JULI 2011
NOMOR: /45/BGV. K/2011
I. HASIL PENGAMATAN

Visual
Cuaca di sekitar puncak G.Merapi umumnya cerah pada pagi dan malam hari, sedangkan siang dan sore hari berkabut. Arah angin di sekitar puncak bervariasi ke arah tenggara, timur, utara dan barat. Suhu udara di sekitar G.Merapi berkisar 14º - 30° C. Asap solfatara berwarna putih tipis hingga tebal bertekanan lemah, dengan tinggi asap maksimum 600 m condong ke arah barat terjadi pada tanggal 3 Juli 2011 pukul 08.15 WIB teramati dari Pos Kaliurang.
Pada tanggal 1 Juli 2011 pukul 19.30 WIB dari Pos Babadan terdengar suara guguran kecil, dan pada tanggal 3 Juli pukul 05.10 WIB dari pos yang sama terdengar suara guguran sedang.
Minggu ini jumlah gempa VA dan VB meningkat dibandingkan minggu sebelumnya, sedangkan Guguran, Hembusan dan MP menurun terhadap minggu sebelumnya. Gempa tektonik tidak mengalami penurunan maupun kenaikan (statis). Tabel 1 menunjukkan perbandingan statistik kegempaan minggu ini terhadap minggu sebelumnya, dan gambar 1 menunjukkan statistik kegempaan selama September 2010 hingga Juli 2011.

Tabel 1. Perbandingan jumlah gempa tanggal 27Juni–3 Juli 2011 (Minggu ini) terhadap 20–27 Juni 2011 (Minggu Lalu).

Gambar 1. Grafik seismik per minggu mulai 1 September 2010 hingga 3 Juli 2011
Hasil pengukuran deformasi menggunakan EDM (Electronic Distance Measurement) pada minggu ini menunjukkan belum adanya perubahan jarak yang signifikan antara reflektor-reflektor yang terpasang di puncak G. Merapi (R1, R2, R3, dan R4) terhadap Titik Tetap di Pos Jrakah, Pos Babadan, dan Pos Selo (Tabel 2). Hasil pengukuran ini mencerminkan tidak terjadi deformasi di G. Merapi.

Tabel 2. Hasil Pengukuran EDM tanggal 24 Juni - 4 Juli 2011
Pada minggu ini terjadi gerimis dengan intensitas Curah Hujan Tertinggi hanya <10 mm/jam, sehingga pada minggu ini pula tidak ada ancaman aliran lahar. Adapun curah hujan yang dicatat pada setiap pos pengamatan (Tabel 3) :

Tabel 3. Curah hujan di Setiap Pos pada Tanggal 27Juni–3 Juli 2011


II. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat “Waspada” (level II).
III. SARAN
  1. Mengingat masih sering terjadi hembusan asap dengan tekanan cukup kuat dan banyaknya material lepas di lereng G. Merapi yang berpotensi longsor, maka masyarakat tidak diperkenankan melakukan kegiatan pendakian ke kawasan puncak G. Merapi.
  2. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan, maka status aktivitas G. Merapi akan ditinjau kembali.
  3. Untuk memperoleh informasi mengenai G. Merapi, agar menghubungi pos pengamatan terdekat atau ke kantor BPPTK, Jalan Cendana 15 Yogyakarta, telepon: (0274) 514180, (0274) 514192, (0274) 554608, web : www.merapi.bgl.esdm.go.id
  4. Pemerintah daerah diharapkan kerjasamanya untuk menyosialisasiakan rekomendasi ini kepada masyarakat.

Yogyakarta, 4 Juli 2011
Kepala BPPTK,




Drs. Subandriyo, M. Si
NIP 19620612 199003 1 001

Status G .Dieng naik menjadi SIAGA (Level 3)

Written By Unknown on Rabu, 01 Juni 2011 | 14.39

Ststus Dieng dinaikkan menjadi SIAGA (Level 3) oleh Badan geologi setelah dilakukan evaluasi aktifitasnya yang meningkat. Dibawah ini cuplikan dari surat yang dikeluarkan oleh Badan Geologi mengenai peningkatan status G Dieng ini
Dalam peenjelasannya, Badan Geologi mendasari pada pengamatan Visual, Kegempaan, serta Gas CO2.
Gunungapi Dieng secara geografis terletak pada 70 54’ LS dan 1090 54’ BT dan secara administrasi termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah. Pada tanggal 23 Mei 2011, pukul 14:00 WIB, status kegiatan Gunungapi Dieng dinaikkan dari Normal ke Waspada. Catatan erupsi freatik terakhir Gunung Dieng terjadi di Kawah Sileri pada 27 September 2009 pukul 00.05 WIB berupa semburan lumpur.

REKOMENDASI

Sehubungan dengan peningkatan status dari Waspada menjadi Siaga Gunung Dieng maka direkomendasikan sebagai berikut :
Masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 1000 meter dari Kawah Timbang, mengingat ancaman bahaya gas beracun yang berbahaya bagi kehidupan, dengan sifat tidak tampak dan tidak berbau, yang setiap saat dapat terjadi.
Masyarakat agar tetap tenang, tidak terpancing isyu-isyu terkait dengan aktivitas Gunung Dieng yang tidak jelas sumbernya. Untuk itu masyarakat dapat berkoordinasi dengan Pos Pengamatan G. Dieng, dengan alamat Desa Karang Tengah, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, atau dengan Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang, atau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Bandung.
Sumber berita : “Badan geologi”


Huntara/Shelter

Written By Unknown on Sabtu, 19 Februari 2011 | 14.26

Korban bencana erupsi Merapi dari Dusun Kaliadem, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman mulai menghuni shelter saat ini, Gubernur Propinsi DIY Sri Sultan Hamangkubuwono X bersama GKR Hemas dan pejabat dilingkungan pemprop mengunjungi korban erupsi merapi di sejumlah hunian sementara (huntara) atau selter, Setelah menempati shelter warga juga langsung mulai menerima 15 kebutuhan pokok makanan berikut peralatan rumah tangga termasuk kompor dan tabung gas.
Shelter di Gondang merupakan jenis couple dimana satu shelter dihuni dua kepala keluarga dengan luas 12 meter x 12 meter beratap seng dan dinding gedek, dari 1.651 unit hunian sementara (huntara) atau selter yang dibangun, baru 657 huntara dihuni warga karena beberpa hambatan.masuknya warga korban erupsi Merapi ke huntara menjadi titik awal kebangkitan hidup baru





Wilayah Terdampak Banjir Lahar Dingin G. Merapi

Written By Unknown on Senin, 31 Januari 2011 | 07.45


Peta Wilayah Terdampak Banjir Lahar Dingin G. Merapi
gunung api,peta tematik
Peta di atas memiliki resolusi rendah dan mengalami distorsi informasi. Untuk mendapatkan peta dalam ukuran sebenarnya, Anda bisa mendownload peta tersebut disini, atau klik link download.
Detail:Jenis Peta wilayah desa terdampak banjir lahar dingin G. Merapi
Sumber:BPBD Jawa Tengah
Tanggal Pembuatan:17 Januari 2011
Deskripsi:Peta menunjukkan wilayah desa yang terdampak banjir lahar dingin G. Merapi






sumber: http://geospasial.bnpb.go.id
http://suaramerdeka.com/foto_aktual/9d616cfbe911f73ad3add171bae838b4.jpg

ASAL PENGUNJUNG

TWITTERKU

Follow giyantoklaten on Twitter

save merapi

tweet

galeri

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SAFE MERAPI - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger